Beranda Nasional Allah dan Setan Tidak Perlu Dibawa Berpolitik

Allah dan Setan Tidak Perlu Dibawa Berpolitik

263
0
Share
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  

Handalnews.id, Nasional – Pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, menegaskan, dikotomi partai Allah dan partai setan yang disampaikan Amien Rais bisa meningkatkan radikalisme di tingkat akar rumput.

Menurut Hamdi, jika sentimen agama seperti itu selalu digunakan dalam aktivitas politik, akan mendorong masyarakat berpolitik tanpa menggunakan akal sehat. “Yang saya takutkan ke arah radikalisme. Ini enggak perlulah setan dan Tuhan dibawa-bawa dalam berpolitik. Itu akan mendidik masyarakat untuk tidak berpolitik secara akal sehat di masa depan,” ujar Hamdi, Senin (16/4).

Hamdi juga khawatir sentimen seperti ini membuat publik menggunakan cara-cara buruk dalam menyuarakan dukungannya. Selain itu, sikap tersebut juga akan meningkatkan ujaran kebencian dan memancing konflik antar-anggota masyarakat.

“Orang makin beringas, mempertahankan partai itu, atau ucapan verbalnya menggunakan istilah kafir, partai setan, partai Tuhan, itu akan diseret terus, gitu lho. Itu yang kita takutkan,” katanya.

Namun, Hamdi yakin, sentimen agama tak akan berpengaruh pada pemilih mengambang (swing voters). Sebab, pemilih mengambang mengutamakan hal-hal rasional dalam menentukan pilihan politiknya.

“Umumnya pemilih netral itu, swing voters itu, orang rasional. Kalau Anda lakukan proses delegitimasi dan melegitimasi posisi Anda, basisnya harus rasional,” ujar Hamdi.

Jadi, tokoh politik dan kader partai politik harus mengungkapkan ideologi, visi dan misi, program-program, hingga capaian prestasi kepada para calon pemilih. Menurut dia, swing voters tak akan terpengaruh dengan sentimen-sentimen agama dalam politik.

“Kalau partai setan, apakah pemilih juga percaya? Kalau enggak percaya, enggak ada pemilih yang diamini, ya, percuma. Orang juga mengira, ‘Oh, ini orang ngelantur, ya’,” ujar Hamdi.

Di sisi lain, Hamdi juga yakin bahwa publik akan memberikan persepsi buruk terhadap para elite atau kader parpol yang melakukan hal seperti itu. Jadi, hal itu justru membuat pemilih potensial menjauhi mereka yang melakukan hal tersebut. “Apa kriteria disebut partai Allah dan partai setan? itu, kan, enggak legitimate juga,” ujarnya.

Hamdi mengingatkan, partai politik juga belum bisa melepaskan diri dari sikap-sikap buruk yang ada, seperti korupsi.

Ia berharap agar elite politik dan kader parpol fokus pada upaya pembenahan internal partai. Di sisi lain, ia juga mengimbau agar para elite parpol mengutamakan argumentasi, logika, dan fakta dalam berpolitik.

“Cara-cara yang elegan biasanya, kan, mengungkapkan apa ideologi partai, apa yang menjadi platform, program, dan semua berbasis argumentasi, faktual, dan rasionalistas. Itu yang sehat,” kata Hamdi.

Menurut dia, sikap itu lebih mampu menjadi daya tarik bagi pemilih. Sebab, legitimasi politik dibangun menggunakan cara-cara yang elegan dan sehat. Langkah ini juga bisa merebut potensi suara pemilih yang mengarahkan dukungannya ke partai lain.

“Kalau pemilih kita bisa diyakinkan dengan cara-cara yang rasional, mengemukakan program, otomatis legitimasi jadi kuat dan mendelegitimasi lawan, misalnya lawan partai itu tidak bagus, programnya tidak rasional, data menunjukkan begini, tinggal nanti lihat apakah pemilih percaya atau enggak,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, dalam sebuah ceramah di Jakarta, Amien Rais mendikotomikan adanya partai setan dan partai Allah. Awalnya, dia mengajak semua pihak, termasuk PAN, PKS, dan Gerindra, bersama umat Islam berjuang bersama membela agama.

Kemudian, dia menyebutkan, sebaliknya ada pula partai besar yang bergabung dengan partai setan. Namun, saat dikonfirmasi, partai mana yang dimaksud partai setan, dia enggan menjawab. (*)


Share
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here