Home Pringsewu Artikel

Akal Bulus, Kepala Daerah Rakus

488
0
SHARE
Fhoto Ilustrasi

Handalnews.id, Pringsewu - Sikap diam Sekertaris Daerah Kabupaten Pringsewu, prihal Dugaan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang terjadi disekertariad setempat disinyalir sebagai unsur kesengajaan untuk menjatuhkan nama baik Sujadi saddad selaku Bupati Kabupaten Pringsewu di mata masyarakat. 

Gosip bahwa sujadi sengaja melantik para Oknum Koruptor terus berkembang. Ini ada udang dibalik batu. Gong Permainan kelas atas sudah mulai dipermainkan. 

Menurut sudut pandang, Ketua Lembaga Generasi Bangsa Bebas Korupsi (GBBK) Lampung, Harpandi, dengan dirilisnya berita indikasi KKN disekertariad setempat, semestinya sekda mengambil sikap, untuk melaporkan ke aparat penegak hukum dan menyampaikan kepada sujadi sebagai kepala daerah kArena ini menyangkut nama baik Sujadi dimata masyarakat. Bukan malah sengaja membisu dan efeknya yang terjadi datangnya gelombang gosip bahwa sujadi sengaja melantik Oknum koruptor nyata adanya.

Dia menambahkan, inikan masalah disekertariad dimana sekda selaku pengguna anggaran artinya orang yang paling bertanggung jawab ialah sekda dan semestinya sikapnya sekda bukan membisu, harusnya melaporkan. “roda pemerintah terganggu, gara-gara ulah sekda”,paparnya.

Berita yang dilansir edisi lalu H. Sujadi Tanggung Dosa Besar 7 Paket Setdakab Rawan KKN Anggaran Pendapatan Biaya Daerah (APBD) tahun 2018-2019 milik Sekertariad Kabupaten Pringsewu senilai Rp.2.432.000.000,- untuk 7 Paket Proyek Terindikasi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Sujadi sebagai kepala Daerah ikut menerima aliran Dosa. menjadi pertanyaan halayak ramai kenapa Sujadi Harus ikut menerima aliran dosa, jawabannya karena melantik pejabat bermental Koruptor. 

Diterpa problem diatas, tentu akan membuat Sujadi Dilema. karena (ia) dikenal masyarakatnya, seorang yang soleh, tetapi adanya masalah itu membuat pengembangan pikiran masyarakat kabupaten Pringsewu bahwa Sujadi melakukan kesalahan. “kalau pak Sujadi pikir-pikir atau cari tau tentang seorang yang akan membantu dalam pemerintahnya pasti tidak terjadi masalah diatas inikan gara-gara kecerobohannya”,ujar salah tokoh masyarakat.

Di lain sisi, menurut sudut pandang Kyai H.Ismail untuk sisi keagamaan, prihal seorang pemimpin yang menunjuk bawahan, dan bawahanya melakukan Korupsi. secara garis besar Buya sapaan Akrab H.ismail menegaskan pimpinannya justru bakal menanggung dosa yang berlipat Ganda. “kalau masalahnya korupsi dan Pimpinannya mau lepas dari jeratan dosa, maka pimpinannya sendiri yang harus mengambil sikap untuk melaporkan permasalahan itu”,pungkasnya.

Seperti diketahui, jajaran Setdakab Pringsewu tengah diterpa dugaan KKN 7 paket proyek senilai Rp2.432.000.000,- yang bersumber dari APBD tahun 2018-2019. Padahal dalam realisasi 7 paket proyek yang bersumber dari APBD Pringsewu tahun anggaran 2018-2019 juga diwarnai dengan modus mark-up dan permainan setoran proyek sebesar 20 persen yang diberikan pihak ketiga kepada oknum koruptor yang ada disana.

Dari keterangan narasumber diketahui jika 7 paket proyek tersebut ialah Kegiatan Kegiatan belanja jasa transportasi dan akomodasi haji/umroh tahun 2019 senilai Rp600.000.000; Kegiatan belanja sewa dekorasi tahun 2019 sebesar Rp90.000.000; Kegiatan belanja sewa pakaian adat/tradisional tahun 2019 sebesar Rp90.000.000; Kegiatan belanja sewa tenda tahun 2019 sebesar Rp200.000.000.

Kegiatan belanja bahan pameran tahun 2019 sebesar Rp72.000.000 dan kegiatan belanja jasa trasnportasi dan akomodasi haji/umroh tahun 2018 sebesar Rp900.000.000 lalu kegiatan belanja jasa transportasi dan akomodasi wisata religi tahun anggaran 2018 sebesar Rp480.000.000.

“Dari 7 kegiatan itu, oknum koruptor yang ada di Setdakab Pringsewu diduga meraup keuntungan yang sangat fantastis, bayangkan saja modus korupsinya mark-up atau penggelembungan dan meminta fee proyek ke pihak ketiga bila hendak mendapatkan paket kegiatan,” kata sumber.

Sumber juga berkata bahwa pada tahun 2018 kegiatan belanja jasa trasnportasi dan akomodasi haji/umroh yang menelan anggaran sebesar Rp900.000.000, dimana 30 orang diberangkatkan hanya menghabiskan anggaran. (*)