Home Tulang Bawang Budaya

Apakah Kita Salah Seorang Diantara Mereka Kehilangan Pancasila ?

267
0
SHARE
Foto: dok HandalNews.id

HandalNews.id, PANARAGAN - Hari jadi Pancasila pada 1 juni 2021 ini kita seakan-akan kehilangan sosok Pancasila yang sesungguhnya, seperti saat ini pada era modernisasi banyak perubahan budaya yang tak searah lagi dengan jati diri bangsa sesungguhnya katakanlah seperti budaya Gotong-royong pada saat ini sudah mulai memudar karena pengaruh zaman dan hilangnya pengamalan Pancasila pada generasi selanjutnya. Terlebih lagi dipengaruhi dari budaya asing yang banyak mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. 



Munculnya sifat individualisme akibat tidak memahami makna dari sebuah Pancasila yang disebabkan hilangnya penanaman pendidikan pancasila pada generasi muda Indonesia. Apakah saat ini kita sudah kehilangan Pancasila ? Mari kita simak dan tanyakan pada diri sendiri.


Sila Pertama pada pancasila tentang Ketuhanan, banyak diantara mereka sudah mulai tidak menuhankan tuhan mereka mulai menyimpang dari ajaran yang di ajarkan pada agama mereka sendiri. Banyak diantara kita sudah tidak menuhankan Tuhan yang sesungguhnya Yakni Tuhan Yang Maha Esa banyak diantara kita sudah memiliki banyak Tuhan, seperti Menuhankan Harta benda, Menuhankan pangkat dan jabatan, Menuhankan Anak dan istri, Menuhankan sosok atau tokoh sehingga kita lupa bahwa yang terkandung dalam sila Pertama adalah Tuhan Yang Maha Esa yakni Allah SWT DIA lah Tuhan yang sesungguhnya.

Sila ke Dua, banyak diantara kita mulai tidak bisa memanusiakan manusia, cenderung memikirkan diri sendiri, individulis dan berprilaku seenaknya. Tanpa ada rasa kasih sayang antar sesama, banyak bermunculan kelompok-kelompok tertentu, mengkafir-kafirkan golongan sehingga memicu lahirnya individulisme dan anarkisme terhadap golongan.

Sila ke Tiga, Persatuan yang mulai di koyak oleh sesama masyarakat Indonesia, banyak oknum yang ingin memecah belah bangsa Indonesia lewat generasi muda atau golongan-golongan atau kelompok-kelompok tertentu yang dapat di tipu oleh mereka yang haus dengan kekuasaan, modal mereka hanya dengan memainkan isu Suku, Agama dan Ras. 

Mereka lupa bahwa negara ini terbentuk, tumbuh , bersatu menjadi satu kesatuan yakni Nusantara itu semua tak.lepas dari berbagai macam perbedaan latar belakang. Masih ingatkah kita dengan sumpah Patih Gajah Mada ? Dengan sumpahnya menyatukan nusantara yang pada saat itu berdiri banyak kerajaan dengan berbagai latar belakang mulai dari budaya, bahasa dan agama, disatukan oleh sang patih menjadi Nusantara yakni saat ini kita sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ahir-ahir ini banyak bermunculan berita Hoax alias berita bohong yang tersebar di dunia maya, yang membuat masyarakat mudah terprovokasi sehingga munculnya kegaduhan, perpecahan, saling pitnah, saling tidak percaya, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab yang hanya memikirkan kepentingan kelompoknya saja.

Sila ke Empat, kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Makna dari Sila ke Empat ini di era globalisasi saat ini sudah memudar tak ada lagi rakyat percaya kepada wakil-wakilnya sehingga banyak diantara masyarakat mengambil jalan pintas yakni main hakim sendiri, musyawarah tak lagi menemukan solusi, banyak oknum para pejabat,wakil rakyat tak lagi hadir dalam memberikan solusi bagi rakyatnya. Kebijakan-kebijakan hanya sebuah teori tapi pada faktanya tak ada yang peduli dengan rakyat.

Sila ke Lima, Keadilan sekarang sudah mulai dipertanyakan oleh banyak pihak. Semua warga negara Indonesia yang seharusnya memperoleh keadilan yang sama rata , justru berbanding terbalik mereka sama sekali tidak mendapatkan yang namanya keadilan. Banyak yang tidak sesuai keadilan hanya berlaku bagi mereka yang memiliki kekuasaan dan uang yang banyak.

Orang dari kalangan bawah sama sekali tidak akan merasakan keadilan karena mereka akan selalu kalah dengan orang yang berkuasa. Sekarang tidak heran orang yang memiliki kekuasaan menjadi salah menggunakan wewenang, mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri sehingga lupa yang harusnya mereka di sana bekerja untuk siapa. 

Mereka sudah merasa kebal akan hukum dan mulai berprilaku seenaknya tanpa memikirkan dampak yang akan di timbulkan dan apa saja yang sudah mereka rugikan. Sehingga mereka tidak jera di hukum karena mereka berpikir banyak uang dan punya kekuasaan yang bisa membeli segalanya bahkan hukum, tidak heran juga mereka tidak merasakan efek jera dan tidak merasa bersalah sama sekali. (Red)