Home Bandar Lampung Sosial

Hadapi Visrus Covid-19, Ketua KWRI Lamteng : Pemerintah Harus Perhatikan Nasip Wartawan

246
0
SHARE

Handalnews.id, Bandar Lampung - Menghadapi mewabahnya pennyebaran virus corona atau disebut juga Covis-19, Dewan Pimpinan Cabang ( DPC) Ketua Komite Wartawan Reformasi Republik Indonesia (KWRI), Kabupaten Lampung Tengah ( Lamteng), M.Nurullah minta kepada pemerintah pusat maupun daerah agar ikut serta melindungi profesi wartawan dari terjangkitnya virus corona.

"Profesi wartawan tidak bisa dianggap enteng. Sebab mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat dan pemerintah. Profesi wartawan juga sangat rentan tertularnya pennyakit virus conona,"Tegas  Ketua DPC KWRI Lamteng, M. Nurullah, di Kantor berita Pena Berlian, Bandarlampung, pada Kamis ( 2/4/2020).

Nurullah panggilan akrab M. Nurullah RS mengatakan,  penyebaran Virus Corona atau Covid-19 hari-hari ini, banyak daerah yang sudah menerapkan kebijakan Karantina Wilayah. Kebijakan tersebut mewajibkan semua warga harus tinggal di rumah (Stay at Home) dan melakukan pekerjaan dari rumah (Work from Home). Anak sekolahpun sudah diliburkan hampir dua minggu berjalan, dan mewajibkan para siswa belajar dari rumah (Online Learning).

"Namun, bagi sebagian besar rakyat, kebijakan stay at home merupakan sesuatu yang sangat merisaukan. Karyawan atau buruh pabrik, pedagang kaki lima, dan tukang ojek adalah beberapa kelompok masyarakat yang hidupnya hanya berharap dari kerja harian. Uang yang didapat hanya cukup untuk biaya hidup dari hari ke sehari. Dapat uang hari ini, habis untuk biaya hari ini, kadang tidak cukup,"ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, kondisi itu merupakan situasi yang dihadapi ratusan ribu jurnalis se-Indonesia, husunya di provinsi Lampung. Kehidupan mereka juga amat memprihatinkan, hidup sehari-sehari dengan pendapatan yang seadanya.

"Wartawan Indonesia adalah salah satu kelompok rakyat yang selama ini terabaikan di negerinya sendiri. Taraf perekonomian kebanyakan para jurnalis tergolong berada di bawah garis pra-sejahtera atau untuk tidak mengatakan garis kemiskinan,"ujarnya.

Nurullah juga menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang membuat kesejahteraan para jurnalis di tanah air sulit beranjak naik. Jangankan untuk menabung, pendapatan sehari-hari saja hanya cukup untuk biaya keseharian keluarganya. Jikapun ada wartawan yang sejahtera, umumnya mereka adalah pemilik media atau jurnalis yang mempunyai bisnis di luar jurnalistik.

"Beberapa perusahaan media yang memiliki puluhan atau ratusan, sebut saja media-media yang ada di Lampung, bannyak yang hannya modal pas-pasan atau modal nekat karena memiliki niat saja. Jadi kehidupan wartawan tidak ubahnya seperti profesi-profesi buruh lainnya yang berpenghasilan dibawah setandar,"kata Nurullah.

Jangankan media lokal, masih kata Nurullah, untuk kalangan jurnalis yang bekerja di media-media besar, yang mempunyai jaringan bisnis beromset miliaran hingga triliunan, masih cukup memprihatinkan.

"Maka dapat dibayangkan kehidupan para jurnalis di daerah-daerah yang hanya bermodal idealisme dan semangat empat-lima. Bekerja dengan bermodal sebuah android untuk merekam hasil wawancara sekaligus mengambil foto sang narasumber dan obyek berita, tentunya tidak akan memberikan hasil (pendapatan) yang cukup," Ujarnya.

Nurullah mengatakan,  disaat-saat genting masa karantina seperti sekarang, kalangan jurnalis merupakan kelompok rakyat yang amat rapuh dari sisi ekonomi. Sebagian besar mereka tidak memiliki persediaan kebutuhan hidup, tidak juga memiliki tabungan dana yang memadai untuk menjalani masa stay at home, walau untuk beberapa hari sahaja. Jika sang wartawan memiliki keluarga dengan jumlah anak yang cukup banyak, semisal 3 atau 4 orang, tentunya menjadi beban yang sangat berat baginya.

"Perlu dicatat meski dalam kondisi demikian, Wartawan tidak akan pernah berputus asa, apalagi mengeluh, terlebih lagi mengemis kepada siapapun. Idealisme seorang wartawan yang selalu siap untuk hidup menderita merupakan pegangan utama bagi mereka. Jangan pernah berharap bahwa wartawan akan datang ke pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk sekedar meminta bantuan. Justru, para jurnalis sejati akan bergerak untuk menggalang kekuatan dalam mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat. Wartawan hanya lantang suara ketika memperjuangkan rakyat, tetapi diam seribu bahasa jika bicara soal nasib-hidupnya sendiri,"imbuhnya.

Nurullah yang juga Ketua DPC Kommari kabupaten setempat ini juga mengakan, Walaupun wartawan diam, janganlah beranggapan mereka kuat dan mampu bertahan tanpa makan-minum sehari-hari. Wartawan tetaplah manusia. Mereka butuh asupan makanan untuk tetap bisa hidup. Mereka juga butuh menghidupi anak-istrinya sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaannya di keluarganya.

"Pemerintah Pusat hususnya Provinsi Lampung, serta kabupaten semestinya tidak melupakan kalangan jurnalis sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang wajib diayomi dan dilindungi hidupnya. Berikan akses ke sumber-sumber ekonomi yang ada di lingkungan pemerintah, baik dari alokasi anggaran APBN/APBD maupun bentuk bantuan lainnya. Pemanfaatan keuangan yang bersumber dari dana CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan-perusahaan yang ada di daerah masing-masing dapat dimaksimalkan membantu warga masyarakat terdampak, termasuk kalangan wartawan,"tegas Nurullah.

Dia juga menambahkan, paling penting dari semua ini adalah bahwa para pengambil kebijakan di pemerintahan daerah semestinya peka terhadap kebutuhan warganya, terutama dari kalangan “pendiam” wartawan.

"Mereka adalah bagian dari tanggung jawab Anda, karena mereka adalah rakyat Anda. Saya hanya menyuarakan keresahan ratusan ribu wartawan se-nusantara, husunya para kuli tinta yang ada di provinsi Lampung, yang tidak pernah mereka utarakan, bahkan kepada sayapun tidak pernah,"pungkasnya (red).