Home Tulang Bawang Pemerintahan Daerah

Jadikan Pariwisata Dengan Kreatifitas, Tubaba Gelar Festival Bambu Internasional

692
0
SHARE
Poto Dok : Handalnews.id

Handalnews.id, Tubaba - Pada ajang bergengsi Internasional Bambu Festival di Kabupaten Tulang Bawang Barat Propinsi Lampung yang di gelar selama Tiga hari ke depan berharap menjadi ajang bergengsi mengenalkan Tubaba kepada dunia sebagai daerah penghasil bambu paling banyak dari berbagai spesies. 

Dan menyampaikan kepada dunia bahwa bambu adalah tanaman yang memberi manfaat besar bagi manusia khususnya menjaga lingkungan, juga menambah nilai jual bambu dari berbagai olahannya. Seperti perkakas rumah tangga, peralatan pertanian dan nelayan. Seperti halnya Cina yang disebut sebagai Negeri Tirai Bambu, Tubaba pun banyak macam jenis bambu dengan kualitas yang sama.

Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia halim menyanjung Bupati Umar Ahmad atas kegigihannya menjadikan Tubaba sebagai daerah pariwisata dengan segala kreatifitas yang dibuat dan disajikan kepada masyarakat nasional bahkan dunia.

"Saya sedikit banyak belajar dari Pak Umar Saya kagum dengan idenya dan berkat dukungan kawan-kawan pecinta seni lainnya, kita dukung Pak Umar untuk Tubaba kembali ke masa depan," tutupnya, Jum'at (6/11/2020).
 
Namun sayangnya, akibat pandemi Covid -19 melanda negeri ini banyak tamu undangan dari luar daerah misalnya kedutaan negara tetangga tak bisa hadir akibat Pandemi. Hingganya acara tak begitu semarak dan hanya dihadiri warga lokal itupun terbatas.

Selain pembukaan Festival ada sajian  Work Shop beberapa hari kedepan guna mengedukasi masyarakat setempat mengolah dan memanfaatkan bambu sehingga menambah nilai jual bagi warga. Dalam hal tersebut Sammy selaku direktur Festival tersebut menghimbau gerak cepat dan tepat bagi dinas terkait guna mengambil dan memanfaatkan moment tersebut. 

Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari Jumat-Sabtu-Minggu (6-8 November) dipusatkan di Uluan Nughik, Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulangbawang Tengah pada Jumat 6 November akan dimulai pembukaan sekitar pukul 07.15 WIB pagi, dan hanya akan dihadiri sekitar 193 orang peserta dan tamu undangan guna menerapkan protokol kesehatan.

Diketahui, Tubaba International Bamboo Festival (TIBF) merupakan gelaran yang menjadikan bambu sebagai pokok bahasan (subject matter). Di dalamnya didistribusikan pengetahuan bambu dengan spektrum yang luas: arsitektur, seni kriya, seni pertunjukan, kuliner dan pengetahuan tradisional.

Festival ini memiliki sejumlah agenda, yaitu penerbitan buku, pameran, workshop, seni pertunjukan, penanaman pohon bambu, dan permainan rakyat. Diselenggarakan oleh Sekolah Seni Tubaba dengan dukungan dari Kemendikbud, Pemda, Festival ini dikuratori oleh Gede Kresna.

Penerbitan buku “Menjaga Bambu Nusantara dari Tubaba” ditulis oleh 13 pegiat bambu dari berbagai latar belakang, akademisi, arsitek, pelaku industri bambu, pegiat kriya dan seniman pertunjukan. Yakni, Prof. Elizabeth Wijaya (akademisi), Muqodas Syuhada (arsitek), Undagi Jatnika Nagamiharja (praktisi), Eko Prawoto (arsitek), Singgih Susilo Kartono (praktisi),Gede Kresna (arsitek),  Lawe Samagaha (seni pertunjukan), Studio Dapur (kriya) dan Putra Dharmalko Tumangke Maxy (arsitek) dan Gede Kresna.

Festival ini setiap hari akan menampilkan seni pertunjukan, pada malam penutupan kelompok musik senyawa, sebuah kelompok musik eksperimental dari Yogyakarta, yang dikenal dengan penggunaan instrumen bambu akan menjadi penutup seluruh rangkaian acara. Kelompok lain adalah Pringlaras (Pringsewu), Orkes Bada Isya (Bandarlampung), Ijotafara (Tubaba), Voice of Culture (Tubaba) Sanggar Pakem Anak Rawa (Tubaba), Sanggar Buntara Budaya (Tubaba), Q-Plus (Tubaba), Gadis Senja (Tubaba) dan Pertunjukan Sirkus Api oleh Vian dan Anastasya (Tubaba-Makassar). (Jaz/Eds)