Home Lampung Utara Artikel

Menyusun Langkah Menyelamatkan Pendidikan Lampura di Era New Normal

606
0
SHARE
Fhoto dok : handalnews.id

Narasumber : Ir. Michael Saragih (Kadisdibud Lampura)
Penulis : Basirun
Penyunting : Henik

Handalnews.id, KotabumiĀ  - Pandemi Covid-19 hampir mengguncang seluruh aspek kehidupan manusia, sektor perekonomian, kesehatan, sosial, budaya bahkan pendidikan tidak luput dari dampak luar biasa penyebaran virus mematikan tersebut. Ditengah situasi yang serba tidak menentu ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Utara, telah mengeksekusi berbagai langkah strategis untuk menjamin kualitas pendidikan khususnya bagi generasi penerus bangsa yang berada di wilayah Ragem Tunas Lampung.

Dalam dialog dengan awak media ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Utara, Ir. Michael Saragih, mengatakan jika di masa pandemi Covid-19 ini, siswa, guru dan orang tua memiliki peranan tersendiri dalam menjalankan aktifitas pendidikan.

"Saya melihat di masa pandemi ini, khususnya pada era new normal, aktifitas pendidikan setidaknya terbagi menjadi 4 kuadran. Yakni orang tua, siswa, guru dan masyarakat," ujar pria yang akrab di sapa Opung Saragih ini.

Dalam kuadran 1, Saragih menjelaskan, orang tua juga berperan sebagai guru yang artinya kini ada komunikasi yang intensif antara anak dan orang tua. "Orang tua berinteraksi dengan guru untuk mengklarifikasi tugas. Orang tua memberikan nilai tambah pada anak dalam bentuk pendidikan karakter, pola pikir dan perilaku dan orang tua memiliki kesempatan untuk keluar dari zona bayang-bayang," jelasnya.

Dalam kuadran 2, dijelaskan Saragih, siswa melaksanakan pembelajaran mandiri. Sebab, bagi Saragih sendiri, generasi hebat adalah generasi yang bisa melewati masa-masa krisis, artinya siswa berusaha keras untuk menunaikan tugas dan kewajiban meski dengan pendampingan minimum dari guru, sehingga siswa lebih bebas berkreasi dan berimajinasi mengenai tugas dan akhirnya siswa terbiasa mengelola waktu secara mandiri.

Sedangkan dalam kuadran 3, guru mengkonfirmasi kemajuan siswa bisa lewat media sosial dan memberikan materi yang penting sebagai bekal siswa. Selain itu, guru berusaha keras untuk beradaptasi dengan teknologi yang selama ini dipandang sebelah mata, untuk kemudian guru harus memutar otak untuk membangun suasana keterikatan maksimum dengan siswa. "Selain itu juga, guru wajib mengembangkan dirinya, aktif dan mencari sumber belajar serta semakin terbuka pikirannya terhadap kemudahan dari teknologi," tuturnya.

Menjelaskan kuadran 4, Saragih mengungkapkan jika peranan masyarakat sangat penting, utamanya dalam kesadaran menyediakan platform belajar di situasi tidak normal saat ini atau masyarakat industri secara serentak memberikan keleluasaan bagi siapa saja tanpa biaya, membantu menyediakan konten edukasi berkualitas terbuka bebas.
Platform teknologi juga terbuka luas. "Pada masa pendemi ini, tentu mereka akan menuntut blended learning. Karena semuanya sudah tahu banyak dengan adanya teknologi dan juga dukungan orang tua," jelasnya.

Selain kuadran diatas, Saragih juga menyiapkan setidaknya 5 langkah strategis yang harus dilakukan sekolah di masa pandemi Covid-19 atau memasuki era new normal dalam menyelamatan dunia pendidikan di Kabupaten Lampung Utara antara lain, melakukan peninjauan kembali terhadap target pembelajaran yang ingin dicapai, agar secara rasional selaras dengan situasi dan kondisi baru dalam new normal.

Kemudian, melakukan identifikasi sumber daya yang perlu dimiliki dan diadakan agar tujuan baru yang telah ditetapkan tersebut dapat dicapai dengan ketersediaan sumber daya yang ada.

Lalu melakukan pemetaan situasi dan kondisi masing-masing guru dan siswa yang harus bersiap-siap melakukan model pembelajaran baru berbasis blended learning sebagaimana dirancang.

Melakukan kajian kemungkinan gap antara kebutuhan dan ketersediaan untuk menyusun langkah-langkah strategis dan operasional yang perlu segera dilakukan untuk menjembataninya.

"Terakhir, yang terpenting adalah mengksekusi langkah-langkah tersebut secara kreatif dan inovatif dengan menjalin berbagai kemitraan dengan pihak-pihak eksternal yang peduli mengenai pendidikan," urainya.

Saragih juga mengungkapkan bagaimana pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam peningkatan kualitas pendidikan, termasuk yang paling mendasar adalah membagikan pengalaman praktik dari daerah dalam penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh.

"Pada new normal yang terpenting prioritasnya adalah keamanan, kesehatan, dan keselamatan. Kalau daerahnya aman, tapi sekolah tidak aman, maka sekolah dilarang melaksanakan pembelajaran yang mengumpulkan massa. Begitu juga kalau komunitas sekolah menyampaikan tidak aman, maka tidak perlu dibuka," kata Saragih.

Dikatakannya, keputusan untuk menutup sekolah bukan berarti pembelajaran tidak terjadi. Pilihannya bisa melaksanakan belajar dari rumah, baik secara daring, luring atau blended. Yang terpenting orientasi pembelajarannya berdasar pada kebutuhan siswa.

"Yang juga penting, jangan sampai penggunaan teknologi dalam pembelajaran jarak jauh, hanya memindahkan tatap muka ceramah di kelas. Siswa harus difasilitasi untuk aktif belajar bukan berpusat pada guru," tandasnya.

Diutarakan Saragih, sekarang tidak ada tuntutan yang kuat siswa harus ikut ujian. Ini menjadi kesempatan bagi guru dan kepala sekolah untuk membuat inovasi-inovasi hal-hal yang relevan untuk kebutuhan belajar siswanya.

Selain itu, diteruskannya, Kemendikbud saat ini juga tengah mengembangkan super aplikasi pendidikan yang dapat membantu siswa belajar lebih baik. Aplikasi ini jauh lebih canggih dan mudah penggunaannya. (Adv)