Home Pesawaran Hukum

Polres Pesawaran Lakukan Pulbaket, Firlizanni Terancam Dikerangkeng

1329
0
SHARE
Poto Dok : Ilustrasi

Handalnews.id, Pesawaran - Tim penyidik unit Tindak Pidana korupsi (Tipikor) Polres Pesawaran Polda Lampung sudah melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (Pulbaket) terkait dugaan penyimpangan Dana Desa (DD) di Desa Pekondoh Kecamatan Way Lima. 

Kanit Tipikor Polres Pesawaran, Ipda David Herlis mewakili Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro, membenarkan jika laporan dari masyarakat Pekondoh terkait dugaan penyimpangan DD yang ada di Desa Pekondoh sedang berjalan dan sudah dilakukan pulbaket.


"Ya ini (kasus dugaan penyimpangan DD Pekondoh-red) sedang berjalan, kita sudah pulbaket dan memanggil kadesnya," jelas dia saat dihubungi melalui sambungan selulernya, Rabu (11/3/2020). 

Sebelumnya, warga Desa Pekondoh, Kecamatan Way Lima desak Polres Pesawaran segera tindaklanjuti laporan penyalahgunaan Dana Desa (DD) yang diduga dilakukan oleh Kades Firlizani. 

Salah satu warga Desa Pekondoh yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dimana beberapa waktu lalu dirinya bersama masyarakat lainnya sudah melaporkan dugaan korupsi yang dilakukan Kades Pekondoh. 

"Beberapa waktu lalu, kita sudah laporkan Kades Pekondoh ke Polres, namun sampai sekarang belum tau, apakah ditindaklanjuti atau tidak, kami ingin secepatnya perkara itu segera di proses," ucap dia.


Diketahui, secara resmi melaporkan dugaan penyimpangan dana desa yang dilakukan oleh kepala desa setempat kepada Polres Pesawaran Polda Lampung, dalam laporan tersebut masyarakat mencantumkan 20 poin dugaan penyimpangan dengan total kerugian negara 313 juta rupiah. 

Ia menjelaskan, dari 20 poin tersebut dugaan penyimpangan antara lain adalah dugaan program fiktif dan juga Mark Up anggaran dibeberapa kegiatan pembangunan. 

Diantaranya, pengadaan bibit jeruk sebanyak 1000 batang yang terdapat dalam APBDes dengan nilai anggaran 50 juta rupiah, tetapi tidak diketahui di mana bibit itu berada, setelah itu ada juga pengadaan ambal dan AC untuk masjid yang diduga dimark up oleh kepala desa. 

Selain itu, pengerjaan jembatan gantung yang ada di Dusun Pekondoh Induk juga turut masukkan kedalam laporan dikarenakan ada beberapa dugaan Mark Up dalam proses pengerjaannya. 

"Ya kebanyakan yang fiktif, sama mark up juga, misal bibit jeruk, ambal masjid di APBDes ada 40 rol, ternyata yang sampai dimasyarakat cuma 9, AC juga begitu, di APBDes ada dua ternyata sampai dimasyarakat cuma satu," jelas dia (Ismail)