Home Pesawaran Hukum

Praktisi Hukum Desak APH Usut Penyimpangan DD Pagar Jaya

640
0
SHARE
Praktisi Hukum Hermawan, S.HI, MH

Handalnews.id, Pesawaran - Terkait kasus dugaan pelanggaran pembangunan rigid Beton dengan menggunakan Dana Desa (DD) yang dilakukan Kepala Desa Pagar Jaya, Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran Lampung, Praktisi Hukum Hermawan, S.HI, MH angkat bicara.
 
Menurutnya, jika mengacu kepada Rancangan Anggaran Biaya (RAB), ada indikasi permainan yang harus diusut tuntas.
 
"Jika bangunan tidak sesuai setidaknya harus dikerjakan ulang terkait pembangunan rigid tersebut atau ya diusut tuntas oleh APH," ungkapnya, Minggu (8/12).
 
Apalagi kata dia, sudah ada statement dari salah satu warga yang juga sebagai Anggota DPRD Kabupaten setempat (Fahmi Fahlevi-Red).
 
 
"Jika alasannya karena tekstur tanah pertanyaannya apakah harus diberikan batu atau ada cara lain? Itu kontraktor lebih faham, tentunya ada indikasi jumlah RAB yang coba dipermainkan," kata Hermawan yang juga sebagai Ketua Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) Provinsi Lampung.
 
"dengan kenyataan yang ada harus ada Punishment kepada penyelenggara apakah itu yang mengerjakan maupun pihak desa," timpalnya.
 
Ditegaskan, semua pelanggaran yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan dan tidak memakai dalil dalil untuk membenarkan kegiatan korupsi.
 
"Logikanya jika semua pelanggaran korupsi boleh mengembalikan hasil korupsi maka akan banyak koruptor yang melakukan korupsi, yang benar adalah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya Dimata hukum," tegasnya.
 
Diberitakan sebelumnya, Penggunaan Dana Desa yang diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di Desa Pagar Jaya, Kecamatan Punduh Pedada pada prakteknya masih menimbulkan masalah.
 
Hampir 1 Milyar rupiah dana desa yang mengalir diduga penggunaannya tidak sesuai dengan peruntukan.
 
Seperti yang diungkapkan Anggota DPRD Kabupaten Pesawaran Politisi Partai Nasdem, Fahmi Fahlevi, Senin (2/12).
 
Dirinya berujar, pengerjaan rigid beton di Pagar Jaya tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang terdapat dalam APBDes setempat. 
 
"Dalam RAB kan jelas pengerjaan rigid beton, tapi dalam teknisnya tidak terlihat seperti mengerjakan rigid, malah justru lebih mirip seperti buat pondasi," ungkap Fahmi, Minggu (1/12).
 
Fahmi menjelaskan dalam pengerjaan rigid tersebut sangat jauh dari standar dan juga komposisi yang memang sesuai dengan spesifikasi untuk pengerjaan rigid beton. 
 
"Mestinya kan kalau buat rigit memakai batu split, ini kan enggak, ini malah pakai batu ukuran besar disusun jadi biar tingginya 20 cm, itu kan sudah jelas-jelas menyalahi," jelasnya. 
 
"Jadi standar 20 cm untuk rigid itu diakali dengan batu besar, itu kan akal-akalan buat mengurangi volume semen, dampaknya fatal bisa dipastikan gak bakal bertahan lama," tambahnya. 
 
Fahmi juga mengatakan setidaknya ada dua sampai tiga tempat pengerjaan rigit beton yang kesemuanya dikerjakan tanpa standar dan juga spesifikasi yang sesuai, diantaranya ada di Dusun Pagar Harapan, Pagar Induk dan beberapa Dusun lainnya. 
 
Dirinya juga berharap aparat penegak hukum dapat segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap kemungkinan terjadinya penyelewengan tersebut. 
 
"ini merupakan aduan dari masyarakat, banyak masyarakat yang lapor ke saya, jadi saya teruskan, saya juga sudah beberapakali turun ke lokasi dan memang begitu kenyataannya," ujarnya.
 
"Paling tidak ada dua sampai tiga titik pengerjaan rigid beton itu, dan kesemuanya gak sesuai dengan spesifikasi dan juga Rab, saya berani jamin semuanya pengerjaan begitu, bahkan saya berani bongkar rigid itu kalau memang harus membuktikan," tegasnya. 
 
Pengakuan yang sama juga diungkapkan oleh Dian, pendamping desa setempat, Dian mengungkapkan dalam proses pengerjaan rigid beton tersebut memang terdapat beberapa kesalahan. 
 
"Iya memang di Dusun Pagar Induk sempat ada kesalahan, karena masyarakat ngerjainnya pakai batu besar waktu itu, dan itu kita gak tau inisiatif dari mana apakah dari masyarakat yang mengerjakan atau inisiatif dari kepala desa," jelas Dian. 
 
"Yang pasti saya tidak mau menyalahkan atau menyudutkan salah satu pihak saja, yang pasti selaku pendamping saya selalu mengingatkan setiap proses pengerjaan tersebut," tutupnya. 
 
Sementara itu, Kepala Desa Pagar Jaya Jamian menjelaskan bahwa setiap proses yang dilaksanakan telah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan, hanya saja memang dalam prosesnya terdapat beberapa penyesuaian yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. 
 
"Ya saya rasa semua sudah sesuai cuma kan keseluruh itu kalau memang didalam sebuah RAB disesuaikan dengan apa yang ada, kan begitu," ujar Jamian. 
 
"Ya kalau memang ada yang mengatakan belum sesuai ya tinggal dilihat aja di lokasi," tutupnya. (Ismail)