Home Lampung Tengah Pariwara

SMK, Antara Revitalisasi dan Revolusi Industri 4.0

376
0
SHARE

Handalnews.id, Lampung Tengah – Sekolah Menengah Kejuruan atau yang biasa diakronimkan dengan SMK, merupakan jenjang pendidikan menengah kejuruan yang memiliki tujuan utama menyiapkan lulusannya dalam memasuki dunia kerja, di samping dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terutama program diploma maupun yang paling utama sesungguhnya untuk berwirausaha.

Dalam naskah ini, dirangkum sejumlah keterangan dan harapan dari sejumlah Kepala SMK negeri dan swasta di Kabupaten Lampung Tengah. Mereka yang selama ini berjibaku dengan naik turunnya stigma masyarakat tentang SMK terlebih kini ditengah program revitalisasi SMK di tengah cepatnya arus revolusi industry 4.0.

Ketua MKKS SMK Kabupaten Lampung Tengah, yang juga merupakan Kepala SMK Negeri 2 Terbanggi Besar, Yos Devera, menegaskan bahwa lulusan SMK harus dipersiapkan untuk bekerja di dunia industri nasional. Pasalnya, gempuran tenaga kerja asing tidak bisa dihindari seiring datangan revolusi industri 4.0.

“Terutama di bidang industri kreatif. Saat ini, banyak ahli Indonesia yang sudah berkiprah di negara lain. Begitu juga sebaliknya,” ujar Yos Devera dalam dialog bersama awak media ini di sekolahnya pekan lalu.

Dalam mempersiapkan generasi SMK yang siap bersaing di era global, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun depan (2020-red) akan merevitalisasi SMK yang menjadi program prioritas pemerintah hingga 2024.

“Dalam kurun 5 tahun ke depan, Kemendikbud diberi target untuk merevitalisasi sebanyak 5000 SMK. Fokus pembangunannya untuk SMK bidang Kemaritiman, Ketahanan Pangan dan Pertanian, Industri Kreatif dan Pariwisata,” ujar Yos.

Bagi Yos Devera sendiri, program revitalisasi SMK harus melibatkan semua pihak, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Tetapi juga harus dibantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

Kemendikbud sendiri juga telah menandatangani kesepakatan kerja sama dengan ratusan perusahaan swasta untuk pemagangan siswa SMK. “Semuanya memang didorong untuk terlibat langsung,” kata Yos Devera.

Dalam kesempatan yang terpisah, Kepala SMK Negeri 1 Seputih Agung, Edy Christanto, berharap antara orang tua dengan siswa ada sinergitas dan membangun komunikasi dalam proses pembelajaran. Peran serta orang tua dibutuhkan dalam pengembangan bakat siswa sekolah.

“Khusus untuk SMK, dengan adanya komunikasi yang baik antara sekolah dengan orang tua siswa, harapannya bisa menjadi jalan tengah yang baik dalam memfokuskan pengembangan bakat anak didik,” kata Edy Christanto.

Ia menambahkan jika saat ini kepercayaan masyarakat terhadap SMK sudah cukup baik. Orang tua yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada SMK jumlahnya terus meningkat. Dengan hal ini maka, stigma SMK sebagai sekolah nomor dua akan semakin memudar.

Namun bagi Edy dalam menjaga kepercayaan ada prinsip dasar dalam pengelolaan sekolah yang dilakukan dengan baik. “Contohnya program SMK Negeri 1 Seputih Agung adalah pendidikan karakter kerja yaitu dengan peningkatan budaya kerja bagi siswa,” urainya.

Dijelaskan, ada bebrapa materi budaya kerja yang akan dikembangkan, yaitu kepemimpinan, kedisiplinan, religius, pengembangan bakat dan minat.

Selain itu, Edy juga mengatakan jika dengan keterlibatan orang tua di sekolah, diharapkan bisa membentuk ekosistem pendidikan di sekolah. Sehingga terjadi proses pembelajaran di sekolah yang efektif yang dilakukan bersama-sama.

“Dengan sinergitas orang tua siswa dan sekolah, tugas sekolah akan menjadi ringan dan tujuannya tercapai. Yaitu menjadikan anak lulusan SMK N 1 Seputih Agung ini siap kerja. Semua prasarana, karyawan, guru, dan kurikulum untuk menyiapkan anak siap kerja, baik itu kerja di perusahaan atau wirausaha,” ujar Edy Christanto.

Sementara itu, Kepala SMK Negeri 1 Terbanggi Besar, Hariyadi Brahim, menerangkan bila slogan SMK Bisa, hebat dalam segala hal termasuk menghasilkan lulusan yang kompeten yang kompetetif dalam persaingan global dan dunia kerja, bahkan mencetak wirausahawan muda, adalah sebuah kalimat yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dicapai.

Tetapi kata sulit, bagi Hariyadi, belum tentu tidak bisa, bahkan sangat mungkin dicapai jika direncanakan secara matang dan direalisasikan dengan penuh dedikasi dan loyalitas demi mewujudkan generasi penerus yang tangguh dan ulet.

SMK “Bisa” berarti sekolah yang memiliki kelebihan, kebaikan, keutamaan jika dibandingkan dengan yang lain. Maka, lanjut Hariyadi, dalam konteks ini SMK “Bisa” mengandung makna sekolah model yang dapat dirujuk sebagai contoh bagi kebanyakan sekolah lain karena kelebihan, kebaikan, dan keutamaan serta kualitas yang dimilikinya baik secara akademik maupun non akademik.

Bagi Hariyadi, saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Dirjen Pembinaan SMK telah menetapkan sejumlah kriteria yang harus dimiliki oleh SMK. Kriteria yang pertama Penyaringan siswa masuk (input), yaitu siswa diseleksi dengan menggunakan kriteria dan standar prosedur tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kriteria itu mencakup prestasi belajar dengan indikator angka rapor dan nilai UN, serta hasil tes prestasi akademik, skor psikotes yang meliputi intelgensi dan kreativitas.

Kedua Sarana dan prasarana yang menunjang memenuhi kebutuhan belajar dan praktik siswa untuk menyalurkan minat dan bakatnya, baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler. Ketiga Lingkungan belajar yang kondusif untuk berkembangnya potensi unggulan menjadi keunggulan yang nyata baik lingkungan fisik maupun social-psikologis.

Keempat Guru dan tenaga kependidikan yang menangani harus kompeten baik dari segi penguasaan materi pelajaran, metode mengajar, maupun komitmen dalam melaksanakan tugas. Kelima Kurikulum dipercaya dengan pengembangan dan improvisasi secara maksimal sesuai dengan tuntutan belajar anak didik yang memiliki kecepatan belajar yang lebih tinggi.
Keenam Kurun waktu belajar lebih lama sehingga alokasi waktu untuk pengembangan ketrampilan dalam kerangka kecakapan ketrampilan termasuk di dalamnya kompetensi kerja produktif dan praktik kewirausahaan.

Ketujuh Proses belajar mengajar harus berkulitas dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan baik kepada siswa, lembaga maupun masyarakat sebagai pengguna. Kedelapan SMK “Bisa” tidak hanya memberikan manfaat kepada peserta didik di sekolah, tetapi harus memiliki resonansi sosial kepada lingkungan sekitarnya.

Dalam kaitannya dengan produk yang dihasilkan diharapkan berbasis pada kebutuhan dan permintaan pasar/masyarakat sekitar sehingga produk yang dihasilkan akan diterima dan dapat berkembang semakin baik yang berimplikasi pada pengembangan diri siswa.

Kesembilan perlakuan tambahan di luar kurikulum nasional melalui pengembangan kurikulum lokal dan pembinaan kreatifitas serta disiplin.

Selain kesembilan kriteria tersebut yang menjadi acuan, maka bagi Hariyadi Brahim, SMK “Bisa” yang benar-benar hebat juga harus mempunyai nilai lebih yang ditunjukkan dalam integrasi kecerdasan inteletual, emosional, dan spiritual, serta bagaimana membangun paradigma pembelajaran hebat, pembelajaran berbasis kewirausahaan sebagai dasar mencetak wirausahawan.

Senada dengan Hariyadi Brahim, Kepala SMK Negeri 1 Bumi Ratu Nuban, Indra Mulya, juga mengatakan jika untuk mewujudkan SMK “Bisa” diperlukan kerja sama dari berbagai pihak secara utuh. Harapanya SMK “Bisa” melahirkan anak didik yang menampilkan citra sebagai sosok siswa yang di dalam dirinya terdapat potensi rasional (nalar), potensi (emosi) dan potensi spiritual.
Lembaga pendidikan yang terlalu menekankan pentingnya nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja, mengabaikan kecerdasan emosi yang mengajarkan: integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri atau sinergi menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya.

Bagi Indra Mulya, aspek emosional sebagai salah satu unsur yang menandai ke-diri-an manusia tidak bisa diabaikan, karena berperan dalam membentuk karakter kepribadian manusia, terutama ketika ia menghadapi berbagai kerumitan dan keruwetan kenyataan hidup.

Aspek tersebut, dijelaskannya, dalam perspektif pendidikan ideal belum cukup untuk menggambarkan kebutuhan sosok manusia. Sebab dalam diri manusia terdapat satu asek penting yaitu kecerdasaan spiritual.

“Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang digunakan untuk membuat kebaikan, kebenaran, keindahan dan kasih sayang dalam hidup manusia, kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya,” terangnya.

Sejalan dengan hal tersebut, diteruskan, dengan mengintegrasikan intelegensi,emosi dan spiritual, sekolah telah mengakomodasi sisi kemanusiaan anak didik secara komprehensif, tidak hanya berkutat pada persoalan nilai UN atau pengetahuan kognitif saja, melainkan menekankan semua segi kehidupan manusia seperti moralitas, sosialitas, rasa dan rasionalitas.
Pada kesempatan terpisah, terkait dengan konsep ‘bisa’ bagi SMK, bagi Kepala SMK Karya Wisata Punggur, Widianto, bukanlah hal yang sulit direalisasikan jika segenap komponen penyelenggara pendidikan bekerja secara serius memberikan layanan pembelajaran yang berkualitas dan mendapat dukungan dari masyarakat serta dunia usaha/industri sehingga ke depan SMK bukan lagi sekolah pilihan kedua tetapi sekolah utama dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, kompeten dan kompetitif serta mampu mengatasi tantangan jaman yang selalu berubah.

Dengan tantangan globalisasi, maka SMK harus bisa membuktikan bahwa SMK ‘Bisa’ menghasilkan lulusan paripurna yang berkualitas dan kompetitif dalam dunia kerja serta dapat terserap secara signifikan sehingga tidak ada lagi berita bahwa SMK hanya “Sekolah Mencetak Kuli”.

Bagi Widianto, SMK hebat bukan hanya menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja tetapi juga wirausahawan yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan bagi orang lain sehingga harapan melalui SMK dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran.

“Dengan demikian siswa SMK diharapkan mampu menghasilkan proyek yang berupa produk atau jasa sesuai dengan kompetensi keahlian yang dipelajari. Unit poduksi yang merupakan elemen penting SMK yang menjadi ciri khusus dan membedakan dengan pendidikan menengah lainnya mempunyai peran yang strategis dalam memperkenalkan dan memasarkan produk SMK,” tandasnya.

Terakhir adalah pendapat dari Kepala SMK Ma’arif, Hendriko, yang menyebut jika kini banyak orangtua mengirim anaknya ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan motivasi agar segera cepat mendapat kerja dan mandiri. Dengan demikian, banyak siswa SMK yang dari awal memang bersiap untuk kerja selepas lulus.
Sebetulnya, menurut Hendriko, SMK juga punya peran yang sama dengan Sekolah Menengah Umum yaitu sebagai jembatan menuju pendidikan lanjutan, dan bahkan dengan spesialisasi dan penjurusan yang lebih spesifik.

Namun kalau orangtua merencanakan jenjang pendidikan lebih tinggi, yang mereka pikirkan adalah sekolah menengah umum, bukan SMK. Akhirnya yang banyak terjadi adalah SMK lebih menjadi pencetak tenaga kerja tingkat dasar, bukan pusat penggemblengan tenaga ahli spesialis yang disiapkan sejak usia dini.

Bagi dia, pendapat umum seperti ini perlu diluruskan, karena kehadiran SMK justru mewakili konsep pendidikan yang diterapkan di negara-negara maju, di mana bakat dan minat anak didik diarahkan sejak usia remaja atau pra-perguruan tinggi.

Mahasiswa jurusan akuntansi yang berasal dari jurusan serupa di SMK pasti lebih cepat menyerap ilmunya dibandingkan rekannya yang dari sekolah menengah umum. Demikian juga mahasiswa teknik mesin dari SMK jurusan mesin.

Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saat ini terdapat lebih dari 12.600 SMK di seluruh Indonesia, menampung sekitar 4,3 juta siswa.

Jutaan usia muda yang terspesialisasi sejak usia dini ini merupakan generasi emas yang sangat potensial membantu pembangunan bangsa dan negara ke depannya, sehingga perlu mendapat prioritas dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Pembangunan di berbagai bidang yang gencar dilakukan sekarang membutuhkan pasokan tenaga-tenaga terlatih dan terdidik dalam waktu cepat, dan jelas bahwa SMK merupakan salah satu solusi untuk memecahkan masalah ini,” ucap dia.

Henderiko mengungkapkan bila lulusan SMK memiliki dasar yang lebih kokoh untuk bidang tertentu yang didalami, namun masih membutuhkan pendidikan lanjutan agar tercipta spesialisasi. Sementara itu pandangan umum masyarakat masih menempatkan SMK sebagai lembaga pendidikan terakhir sebelum masuk dunia kerja yang sesungguhnya.

Pemerintah bisa melihat SMK sebagai mitra untuk mempersiapkan "generasi pembangun" dengan berbagai kebijakan yang lebih meringankan biaya pendidikan lanjutan atau sekolah-sekolah kedinasan di mana mahasiswa diperlakukan sebagai tenaga magang yang belajar dengan digaji.

“Sudah waktunya SMK menjadi batu fondasi yang kokoh bagi pendidikan lanjutan yang sangat terspesialisasi untuk mencetak tenaga ahli di level manajerial, bukan sekedar mempersiapkan tenaga kerja tingkat rendahan. Dan juga SMK tak perlu dipandang sebagai pelabuhan terakhir dalam menuntut ilmu, namun sebagai pijakan ke level berikutnya,” tutupnya. (Red)